Cinta,,,cinta,,,
deritanya kadang melebihi bahagianya, apalagi untuk kasus cinta yang bertepuk
sebelah tangan.sakiitttt. kasus ini terjadi di banyak tempat dan diderita oleh
ribuan makhluk merana yang bernama manusia. Dari sekian banyak cerita, ada
sebuah cerita tentang seseorang yang lagi2 cintanya bertepuk sebelah tangan. Kasihan..
Dulu,
dulu sekali, beberapa tahun yang lalu, gue ngejar seorang cewekàya cewek dong masak cowok. Lha
masalah timbul, saya g berani ngomong dan cewek itu menjadi pacar teman karib
saya, mau gimana lagi,>>? Udah akhir nya kisah ini saya pendem dalem2,,,
tapi tetap ada rasa padanya. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, suatu
kisah pun ada masanya, di akhir SMA,,, mereka putus, gara – gara tau kalo saya
suka yang cewek. Ada manfaatnya : separuh kelas benci banget ma saya, dan kami
bertiga saling diam – diaman. Susah double.
Haduh,
layaknya sebuah perjalanan, semua harus berlanjut dan bergerak. Ketiga nya
berpencar, yang cewek kuliah di Perguruan tinggi jurusan keguruan, yang cowok (
mantan ) nerusin usaha keluarga. Dan saya terjebak di dunia teknik, arrrggg. Tapi
cinta mah tak terhambat oleh hal – hal sepele macam itu, dan cinta sulit
mengenal kata “meskipun”. Meskipun terpisah jarak, meskipun dia g pernah tahu,
meskipun di acuhkan, meskipun dia dengan orang lain lagi, meskipun ini,
meskipun itu, meskipun bla bla bla, saya tetap suka dan positif thinking ke
dia.
Yah, di
saat susah kuliah, inget dia jadi bangkit dan semangat. Di saat bahagia kuliah
juga inget dia (andai engkau ada disaat saat bahagia ini, lengkap deh), di
banyak situasi selalu ingat dia. Dan perlahan – lahan yang tak dia ketahui, dia
menjadi salah satu sumber inspirasi di samping Bunda, subhanaLlah, dia tidak
sadar, bahwa dirinya menjadi cahaya bagi orang lain. Ehmmm,,,
Tapi,
penolakan pun bukannya sering, selalu. Ngechat g pernah dibalas, dibalas kalau
lagi moody. Sms g pernah di balas. Susah memang, kalo udah pernah nyaitin nie
cewek, walaupun nyakitinnya secara tak langsung. Tetap saja susah. Tapi usaha
terus menerus saya lakukan. Hingga, tiba suatu saat saya dimana kondisi saya,
keadaan saya sangat down to earth, kondisi depresi yang parah selain kondisi
ditinggal bapak. “tidak lulus sidang” dan harus sendirian di kampus. Pada kondisi
ini, ada beberapa hal yang saya janjikan kepada Tuhan. Diantaranya “berhenti akan
dia”, ada banyak sekali alasan dan jawaban yang g mungkin saya ungkap satu
persatu pada tulisan ini, tapi intinya, saya sadar diri dan tak ingin membawa
dia menuju jurang kehancuran. Biarlah dia bahagia dengan yang lain. Biarlah...
saya berhenti akan dia bukan menyerah, tapi lebih ke sadar diri. Semoga langkah
ini tepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar