Selasa, 12 Februari 2013

Perjalanan Kemarin 2

   Melewati hutan jati, melewati kehomogenannya, serasa membawa saya mengenang masa - masa kecil. Masa - masa indah tanpa beban, tanpa tanggung jawab yang berarti. Melewati kehomogenan hutan jati, serasa way back to home nya bener-bener dapat. karena tipikal hutan tersebut telah mewakili sebagian besar alam Tuban, dan daerah utara sekitarnya. Perjalanan ke Blora, aslinya hanya selintas antar kabupaten, tapi jarak total ketika berangkat dari kediaman ( Soko ), menempuh jarak kira2 75 sampai 80 Km, angka yang fantastis bila dibandingkan dengan jarak Tuban - Surabaya sekitar 112 Km. Hal ini terjadi karena medan, karena jalan yang kebanyakan memutar dan berkelok - kelok,sehingga bila jarak ditempuh lurus mungkin bisa setengahnya, tapi yang namanya daerah perbukitan,pasti berkelok - kelok.
   Setelah perbatasan Blora, udah masuk wilayah blora dari kenduruan, mobil terus berjalan cepat, melewati kelak - keloknya jalan, lalu beberapa kali di tengah-tengah hutan, terlintas perkampungan - perkampungan kecil, yang mungkin penghuninya belasan atau hanya puluhan orang. dan di daerah sini, lalu lintas sepeda motor mulai kelihatan. Yang di kenduruan tadinya hanya 1 atau tiada sama sekali, disini ada beberapa mungkin 5 sampai belasan lah. udah lumayan ramai. perjalanan pun terus berlanjut, desa - desa terlewati, tibalah melewati suatu kecamatan, yang saya lupa namanya, wuhh, ada masjid yang lumayan bagus untuk seukuran kecamatan tersebut, lalu.. lalu saya pun tertidur. mungkin ini salah satu tidur tersingkat.
   Bangun-bangun masih didalam mobil, dan masih melewati jalan seperti tadi, tak lama setelah itu, sampai di jalan lebih kecil, dan memasuki perkampungan warga. Suasana perkampungan disini itu, bagus, iya bagus. Daerah ini mungkin bukan penghasil padi yang baik, tapi ada beberapa tumpukan batang padi ( damen kalau kami menyebutnya, kalo dibahasa indonesiakan namanya jerami :) ), tertumpuk seperti rumahnya orang papua. Ada beberapa tumpukan batang jagung, menandakan daerah tersebut sawahnya tadah hujan. Dan memang benar, ada sumur resapan air hujan di sana, sumurnya bagus juga :). Rumah - rumah disana itu masih seperti rumahnya mbah, masih seperti rumahnya pakdhe2 di tromerto, masih seperti rumahnya pakdhe, dan masih seperti rumahku, Rumah jawa yang kini udah semakin ditinggalkan dan berganti rumah - rumah beton. disana, iklimnya seperti daerah Tuban, daerah pegunungan, iya persis. Tapi, yang membedakan tanahnya, disana tanahnya warna Hitam. ketika tiba disana,sudah ada sekitar 8 mobil, wuuuh banyak juga, semuanya pasti pingin berobat alternatif, dan ternyata benar. Kami pun memarkir mobil, membawa 6 kilo Gula pasir, dan mulai berjalan menuju rumah pak kyai. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar