Jum’at
pagi, tepatnya tanggal 22 Februari 2013, jum’at pahing kalau menurut kalender
orang jawa. Jum’at pahing merupakan jum’at yang biasanya ramai orang berjualan
bunga – bunga untuk nyekar ( ziarah kubur ), dan di jum’at pahing pria tua –
muda dari pagi sampai usai jum’atan tumpah ruah ke kuburan demi ziarah kubur ke
makam saudara dan orang tua. Hal ini sudah umum dan menjadi tradisi,
sebejat-bejatnya orang pun, kalau punya saudara atau orang tua yang meninggal
mereka akan ziarah kubur pada hari ini. Adat / tradisi ziarah ini merupakan hal
baik yang tidak bertentangan dengan islam, semoga terus lestari.
Hari
ini, bertepatan dengan jum’at pahing, dan bertepatan sekali saya sedang berada
di rumah. Bunda semenjak pagi tadi, beliau sibuk menanti kedatangan penjual
bunga yang rata-rata berasal dari daerah pegunungan. Setelah penjual bunga
tiba, bunda langsung membeli bunga. Dengan harga 2500 rupiah, bunda mendapat 8
pincuk bunga, kecil – kecil sih ukuran pincuknya, tapi cukup untuk 4 makam.
Eh,
ternyata, pagi itu saya tidur pulas sampai mas budi membangunkan, tepatnya jam
9 pagi. Memang benar-benar pemalas. Lalu, saya mandi dan berwudhu,untuk pakaian
saya mengenakan celana jeans dan kaos oblong warna hitam, khas anak muda. Mas
budi memakai sarung, kopiah, baju hem, khas pria berumur 40 tahunan. Lalu kami
berdua berjalan ke kuburan yang kira – kira berjarak 150 meter dari rumah.
Jalanan sudah ramai dengan orang-orang desa yang beraktifitas. Sepanjang jalan,
kami disapa oleh puluhan orang, sepertinya mereka agak heran dengan tinggi
badan saya, maklum jarang pulang, dan kalau pulang dikamar terus. Setelah
basa-basi sejenak, kami melanjutkan perjalanan, jalanan ke makam melewati
persawahan, tapi hanya 2 sampai 3 sawah, karena TPU nya masih pinggir
pedukuhan. Dan akhirnya masuk ke komplek TPU, mengucapkan salam kepada para
ahli kubur, lalu kami berdua berjalan perlahan – lahan melewati jalan setapak,
yang sengaja dibuat agar tidak jalan seenaknya melewati makam. Terlihat 4 orang
setengah baya, yang mengunjungi makam para sanak keluarganya. Adat ini, benar –
benar lestari. Aslinya bisa sih ziarah kubur di hari lain. Tapi banyak
sulitnya. Pertama, sulit cari bunga, karena penjual bunga rata-rata menjual
pada saat ada kematian atau jum’at pahing. Kedua, sepi, tidak ada temannya,
inipun misal kalau tidak ditemani mas budi, mungkin tidak akan kesana, simple,
tidak berani.
Sampailah
di makam ayahanda. Orang yang baik, orang yang bijaksana, dan ayah tercinta.
Kadang terharu biru kalau ke makam ini, mengingat sejak kecil udah ditinggalkan
ayah menghadap Yang Maha Kuasa. Tapi, itulah ketentuan Allah, Yang Maha Baik,
Yang Maha Menentukan. Makamnya bersebelahan dengan makam para saudara saya.
Sebelah kanan makam bapak, adalah makam mas sugiarto, adiknya mbak sus tepat.
Sebelahnya atas bawah adalah makamnya mbak sulistiani, kakaknya mas budi tepat,
dan mbak yuliakhasanah, kakak perempuanku tepat. Yang mas sugiarto meninggal
waktu 7 tahunan, yang kedua mbak saya, waktu masih bayi. Makamnya bapak seperti
tak terawat, padahal baru sebulan dibersihkan dan diziarahi mas budi, mungkin
karena derasnya hujan, dan suburnya tanah yang membuat ilalang dan rumput liar
tumbuh subur dan cepat disana. Saya lalu mulai mengirim bapak Suroh Al-Fatehah,
lalu suroh Al-Ikhlas. Setelah membaca masing – masing 3 dan 7 kali, lalu
mengirim mas sugiarto, mbak sulitiani, dan mbak yuliakhasanah dengan al-Fatehah
masing-masing sekali. Kalau mas budi, saya tidak tahu lagi. Setelah do’anya
selesai, lalu bunga ditaburkan. Tidak seperti dikota yang ditaburkan di sekujur
makam, hanya di bagian kepala saja. Kata orang desa, yang penting udah menandai
/ menandakan pernah ada kunjungan makam.
Setelah
tabur bunga, giliran ilalang dan rumput-rumput liar dibersihkan. Mulai kami
cabut satu – persatu, sampai semua bersih. Alhamdilillah, tidak sampai setengah
jam. Lalu, tibalah waktu pulang. Ketika mau pulang, kembali ke pusara bapak
sambil ngomong “ bapak, aku pulang dulu, InsyaAllah do’a akan kukirimkan setiap
hari, baik – baik disana ya pak”. Aslinya ngomong gitu dengan sedih,
ingat-ingat saat ditinggal bapak. Terakhir kami pulang dengan langkah ringan
dan lega. Dan saat kami pulang pun, masih ada beberapa orang yang keluar dan
masuk area pemakaman, memang benar – benar ramai kalau hari jum’at pahing.
Sampai
di rumah, hal pertama adalah cuci kaki. Di dalam tradisi jawa, setelah
berpergian dari mana – mana, diutamakan cuci tangan dan cuci kaki. Katanya biar
tidak ada setan yang mengikuti. Ada – ada saja memang, tapi dampak baiknya,
kita cuci tangan dan kaki, menjaga kebersihan. Di dalam rumah, ibu langsung
ngomong, “udah?”, “sampun” saya jawab.
Lalu bunda mulai cerita dia ingat waktu ditinggal bapak, setiap anak-anaknya
disuruh ziarah. Dia juga meyayangkan mas zin, yang sangat jarang sekali ziarah
kubur bapak. Di akhir dia ngomong “ orang – orang kok bisanya ditinggal mati
istri atau suami setelah menikah selama beberapa tahun, lalu nikah lagi??” aku
g bisa, dia menambahi. Dalam hati, “ ya karena mereka harus melanjutkan hidup
bunda, kadang kesetiaan harus dikorbankan, toh menikah, berkeluarga lebih baik
daripada hidup sendiri”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar