Sabtu, 23 Februari 2013

tani urban ane



Di negara – negara maju, konsep urban farm sudah berjalan sedemikian canggihnya, di Amerika serikat, eropa, jepang, rusia. Bahkan di Jepang, konsep urban farm benar – benar  telah diterapkan di gedung – gedung pemerintah dan di pekantoran. Di beberapa negara Eropa, konsep urban farm juga diterapkan sebagian, ada rumah – rumah beratapkan rumput, ilalang, dan sayur-sayuran. Lantas di Indonesia kapan?
Seperti  yang kita tahu, Indonesia itu negara dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, lahannya luar biasa subur, semua tanaman dunia yang tergolong tanaman tropis tumbuh subur termasuk tanaman karbohidrat. Padi, jagung, ketela pohong, ubi – ubian, sagu dll. Dari dulu sampai sekarang pengelolaan perkebunan dan persawahan Indonesia tetap dengan cara yang turun temurun, inovasi sih ada, Cuma bertumpu pada varietas bibit, cara pengelolaan, dan pengolahan hasil. Selebihnya turun – temurun. Memang kini telah ada pertanian sekaligus peternakan dan hasil buangan dari pertanian serta peternakan menjadi pupuk dan energi biogas, tapi hasil ini masih belum maksimal jika di bandingkan dengan pertanian-pertanian diluar. Pertama, keterbatasan lahan. Lahan yang dimiliki petani jumlahnya sangat-sangat sedikit, rata-rata tidak sampai 10 hektar perkeluarga, hal ini karena adanya sistem warisan yang membagi sama rata sawah-sawah dan kebun-kebun kepada ahli waris, sehingga terus berkurang dan berkurang. Ditambah lagi, tanah yang diwariskan tersebut, rata-rata dijual atau dibangun pemukiman, ya pemukiman di lahan persawahan. Di Indonesia memang ada konsep lahan abadi, tapi secara fakta, kadang dijadikan pemukiman seenaknya sendiri. Diluar negeri, aturan tersebut tegas dan ditegaskan. Kedua, faktor adat. Orang Indonesia masih menjunjung tinggi adat nenek moyang, yang kadang adat itu tidak menguntungkan. Hal ini seperti hari-hari menanam padi, hari-hari lahan dikosongi dll. Harusnya semua adat ini bertumpu pada iptek. Ketiga, faktor cuaca. Mungkin ini merupakan faktor terpenting dalam pertanian, perikanan, dan peternakan. Alasan ini pulalah yang mendorong negara-negara maju untuk mengembangkan urban farm. Tujuan utama adalah pengendalian atas hasil pertanian dan peternakan tersebut, tujuan tambahannya banyak, agar hieginis, sebagai sarana penelitian, sebagai sarana pembelajaran dll. Di Negara –negara maju, yang umumnya terdapat 4 musim, cuaca kadang sangat extrem dan bencana alam sering sekali terjadi. Di jepang, terdapat ratusan gempa pertahun, beberapa kali tsunami melanda. Di Amerika serikat, angin topan sering sekali terjadi. Bila angin topan ini menyapu daerah pertanian maka otomatis pertanian akan ludes. Di Eropa sendiri, perubahan suhu sangat – sangat extrem dan keterbatasan energi yang akut. Hal – hal inilah yang mendorong negara – negara tersebut mengembangkan urban farm, agar dapat mengendalikan hasil sesuai yang diinginkan. Alih –alih mengendalikan hasil, mereka juga dapat mengendalikan hasil sampingan dari urban farm yang mampu dijadikan energi alternatif.
Di Indonesia sendiri, ide ini hanya sebatas ide. Karena lahan pertanian di Indonesia, masih luas ( selain di pulau jawa ), kedua kebiasaan menanam di Indonesia yang masih konvensional. Di Indonesia, pertanian maksimal memakai mesin traktor, cara pemanenan, pengeringan dengan mesin masih belum dilakukan. Memang kebiasaan ini, sedikit demi sedikit berubah, tapi tidak sepesat di barat. Masyarakat mungkin kurang terbuka dalam mencoba hal-hal baru.
Konsep urban farm, misal di terapkan di Indonesia. Dampaknya akan sangat besar, konsep ini mampu mempertahankan lahan hijau ( lahan hutan ), mampu mengendalikan hasil, mampu menambah penghijauan baik di kota maupun di desa, dan meningkatkan produktivitas / jumlah hasil pertanian dan perikanan, karena dapat dibuat model pertanian vertikal. Andaikan, tiap petani, yang punya perkarangan, ditanami tanaman pangan, sedangkan atap yang merupakan beton, ditanami sayur-mayur tentu akan meningkatkan hasil, dan bila mereka mau mengendalikan hasil tentu lebih gampang ketimbang di sawah. Di perkotaan, lahan hijau mungkin akan bertambah dan terus bertambah. Misal di perkotaan yang tidak memiliki lahan tanam, mereka bisa memakai atap – atap rumah mereka sebagai lahan pertanian, diperkantoran-perkantoran, didalam maupun di atap seperti di jepang, juga di lembaga-lembaga pemerintah. Sehingga lahan hijau akan bertambah sendirinya, bahkan kalau mau lebih lagi, kembangkanlah gedung-gedung tinggi, yang didalamnya terdapat lahan pertanian, sehingga terciptalah sistem pertanian vertikal, yang hasilnya berkali-kali lipat ketimbang pertaninan yang biasa. Untuk memenuhi energi, bisa dikembangkan energi alternatif. Misalkan dari hasil limbah urban farm, atau daripengolahan energi angin dan matahari. Hal – hal tersebut sebenarnya dapat diciptakan dan dikembangkan secara berkesinambungan. Masalahnya, sadar atau tidak masyarakat dengan hasil pertanian dan perikanan biasa yang sangat tergantung dengan kondisi cuaca yang semakin tak dapat diperkirakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar