Di negara –
negara maju, konsep urban farm sudah berjalan sedemikian canggihnya, di Amerika
serikat, eropa, jepang, rusia. Bahkan di Jepang, konsep urban farm benar –
benar telah diterapkan di gedung –
gedung pemerintah dan di pekantoran. Di beberapa negara Eropa, konsep urban
farm juga diterapkan sebagian, ada rumah – rumah beratapkan rumput, ilalang,
dan sayur-sayuran. Lantas di Indonesia kapan?
Seperti yang kita tahu, Indonesia itu negara dengan
kekayaan sumber daya alam yang melimpah, lahannya luar biasa subur, semua
tanaman dunia yang tergolong tanaman tropis tumbuh subur termasuk tanaman
karbohidrat. Padi, jagung, ketela pohong, ubi – ubian, sagu dll. Dari dulu
sampai sekarang pengelolaan perkebunan dan persawahan Indonesia tetap dengan
cara yang turun temurun, inovasi sih ada, Cuma bertumpu pada varietas bibit,
cara pengelolaan, dan pengolahan hasil. Selebihnya turun – temurun. Memang kini
telah ada pertanian sekaligus peternakan dan hasil buangan dari pertanian serta
peternakan menjadi pupuk dan energi biogas, tapi hasil ini masih belum maksimal
jika di bandingkan dengan pertanian-pertanian diluar. Pertama, keterbatasan
lahan. Lahan yang dimiliki petani jumlahnya sangat-sangat sedikit, rata-rata
tidak sampai 10 hektar perkeluarga, hal ini karena adanya sistem warisan yang
membagi sama rata sawah-sawah dan kebun-kebun kepada ahli waris, sehingga terus
berkurang dan berkurang. Ditambah lagi, tanah yang diwariskan tersebut,
rata-rata dijual atau dibangun pemukiman, ya pemukiman di lahan persawahan. Di
Indonesia memang ada konsep lahan abadi, tapi secara fakta, kadang dijadikan
pemukiman seenaknya sendiri. Diluar negeri, aturan tersebut tegas dan
ditegaskan. Kedua, faktor adat. Orang Indonesia masih menjunjung tinggi adat
nenek moyang, yang kadang adat itu tidak menguntungkan. Hal ini seperti
hari-hari menanam padi, hari-hari lahan dikosongi dll. Harusnya semua adat ini
bertumpu pada iptek. Ketiga, faktor cuaca. Mungkin ini merupakan faktor
terpenting dalam pertanian, perikanan, dan peternakan. Alasan ini pulalah yang
mendorong negara-negara maju untuk mengembangkan urban farm. Tujuan utama
adalah pengendalian atas hasil pertanian dan peternakan tersebut, tujuan
tambahannya banyak, agar hieginis, sebagai sarana penelitian, sebagai sarana
pembelajaran dll. Di Negara –negara maju, yang umumnya terdapat 4 musim, cuaca
kadang sangat extrem dan bencana alam sering sekali terjadi. Di jepang,
terdapat ratusan gempa pertahun, beberapa kali tsunami melanda. Di Amerika serikat,
angin topan sering sekali terjadi. Bila angin topan ini menyapu daerah
pertanian maka otomatis pertanian akan ludes. Di Eropa sendiri, perubahan suhu
sangat – sangat extrem dan keterbatasan energi yang akut. Hal – hal inilah yang
mendorong negara – negara tersebut mengembangkan urban farm, agar dapat
mengendalikan hasil sesuai yang diinginkan. Alih –alih mengendalikan hasil,
mereka juga dapat mengendalikan hasil sampingan dari urban farm yang mampu
dijadikan energi alternatif.
Di Indonesia
sendiri, ide ini hanya sebatas ide. Karena lahan pertanian di Indonesia, masih
luas ( selain di pulau jawa ), kedua kebiasaan menanam di Indonesia yang masih
konvensional. Di Indonesia, pertanian maksimal memakai mesin traktor, cara
pemanenan, pengeringan dengan mesin masih belum dilakukan. Memang kebiasaan
ini, sedikit demi sedikit berubah, tapi tidak sepesat di barat. Masyarakat
mungkin kurang terbuka dalam mencoba hal-hal baru.
Konsep urban
farm, misal di terapkan di Indonesia. Dampaknya akan sangat besar, konsep ini
mampu mempertahankan lahan hijau ( lahan hutan ), mampu mengendalikan hasil,
mampu menambah penghijauan baik di kota maupun di desa, dan meningkatkan
produktivitas / jumlah hasil pertanian dan perikanan, karena dapat dibuat model
pertanian vertikal. Andaikan, tiap petani, yang punya perkarangan, ditanami
tanaman pangan, sedangkan atap yang merupakan beton, ditanami sayur-mayur tentu
akan meningkatkan hasil, dan bila mereka mau mengendalikan hasil tentu lebih
gampang ketimbang di sawah. Di perkotaan, lahan hijau mungkin akan bertambah
dan terus bertambah. Misal di perkotaan yang tidak memiliki lahan tanam, mereka
bisa memakai atap – atap rumah mereka sebagai lahan pertanian,
diperkantoran-perkantoran, didalam maupun di atap seperti di jepang, juga di
lembaga-lembaga pemerintah. Sehingga lahan hijau akan bertambah sendirinya,
bahkan kalau mau lebih lagi, kembangkanlah gedung-gedung tinggi, yang
didalamnya terdapat lahan pertanian, sehingga terciptalah sistem pertanian
vertikal, yang hasilnya berkali-kali lipat ketimbang pertaninan yang biasa.
Untuk memenuhi energi, bisa dikembangkan energi alternatif. Misalkan dari hasil
limbah urban farm, atau daripengolahan energi angin dan matahari. Hal – hal
tersebut sebenarnya dapat diciptakan dan dikembangkan secara berkesinambungan.
Masalahnya, sadar atau tidak masyarakat dengan hasil pertanian dan perikanan
biasa yang sangat tergantung dengan kondisi cuaca yang semakin tak dapat
diperkirakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar